Bagaimana Hukum Bertawasul dalam Islam, Apakah Boleh?

By. Siti Rahmawati - 25 May 2023

Bagikan:
img

Batemuritour.com- Sudah menjadi anjuran dalam agama Islam bagi setiap umat muslim untuk mendekatkan diri pada Allah.

 

Setiap umat yang dekat dengan Allah, maka akan mendapatkan kemudahan menjalani kehidupan di dunia. Orang yang dekat dengan Allah juga akan dekat dengan pertolongan dan rahmat kebaikan dari Allah.

 

 

Dengan begitu, penting bagi setiap umat muslim untuk beribadah dengan baik kepada Allah, menjalankan setiap perintah dan menjauhi setiap larangan-Nya.

 

Bukan hanya itu, Anda juga perlu terus berdoa untuk mendapatkan ridho kebaikan dari-Nya. Salah satu amalan doa untuk mendekatkan diri pada Allah yang dapat dilakukan adalah tawasul.

 

 

 

Sobat Batemuri mungkin sebagaian anda sering melakukan ziarah ke makam auliya, ataupun wali, guna bertawasul agar maksud dan tujuan kita lekas untuk diijabah.

 

Lalu apakah bertawasul ini dibenarkan dalam ajaran kita?

 

 

 

Sumber gambar: merdeka.com

 

 

Tawasul sendiri diartikan sebagai mendekatkan diri serta berupaya sampai kepada sesuatu.

 

Wasilah yaitu keadaan kedekatan, atau apa yang mendekatkan orang lain.

 

 

 

Dalam Al-Quran Allah SWT berfirman,

 

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ ٱتَّقُوا۟ ٱللَّهَ وَٱبْتَغُوٓا۟ إِلَيْهِ ٱلْوَسِيلَةَ وَجَٰهِدُوا۟ فِى سَبِيلِهِۦ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ

 

 

Artinya: Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan carilah jalan yang mendekatkan diri kepada-Nya, dan berjihadlah pada jalan-Nya, supaya kamu mendapat keberuntungan.

 

 

Bisa dianalogikan bahwasannya secara sederhana tawasul merupakan sebuah perantara untuk mempermudah.

 

Layaknya untuk mendapatkan air dengan mudah kita menggunakan pipa, pipa itulah yang disebut sebagai wasilah.

 

 

Tawassul yang diperbolehkan dengan catatan:

 

1. Tawasul kepada Allah SWT dengan Asma’ dan sifatNya, sebagaimana diperintahkan Allah SWT,

 

وَلِلَّهِ ٱلْأَسْمَآءُ ٱلْحُسْنَىٰ فَٱدْعُوهُ بِهَا ۖ وَذَرُوا۟ ٱلَّذِينَ يُلْحِدُونَ فِىٓ أَسْمَٰٓئِهِۦ ۚ سَيُجْزَوْنَ مَا كَانُوا۟ يَعْمَلُونَ

 

 

“ Hanya milik Allah asmaa-ul husna, maka bermohonlah kepada-Nya dengan menyebut asmaa-ul husna itu dan tinggalkanlah orang-orang yang menyimpang dari kebenaran dalam (menyebut) nama-nama-Nya. Nanti mereka akan mendapat balasan terhadap apa yang telah mereka kerjakan.”

 

(Q.S Al-‘Araf : 180)

 

Pada ayat ini, Allah mengingatkan agar kita tidak melalaikannya dan selalu memanggil-Nya dengan nama-nama-Nya yang terbaik.

 

Dan hanya Allah yang memiliki al-asma'' al-a'usna', yakni nama-nama terbaik yang menunjukkan keagungan dan kemahasempurnaan-Nya, maka berdoalah dan bermohonlah kepada-Nya dengan menyebutnya, yaitu al-asma' ala'usna' itu.

 

 

Baca juga :

 

 

 

 

2. Bertwasul kepada Allah SWT dengan iman dan beramal sholeh sebagaimana diperintahkan Allah SWT,

 

رَّبَّنَآ إِنَّنَا سَمِعْنَا مُنَادِيًا يُنَادِى لِلْإِيمَٰنِ أَنْ ءَامِنُوا۟ بِرَبِّكُمْ فَـَٔامَنَّا ۚ رَبَّنَا فَٱغْفِرْ لَنَا ذُنُوبَنَا وَكَفِّرْ عَنَّا سَيِّـَٔاتِنَا وَتَوَفَّنَا مَعَ ٱلْأَبْرَارِ

 

 

“ Ya Tuhan kami, sesungguhnya kami mendengar (seruan) yang menyeru kepada iman, (yaitu): "Berimanlah kamu kepada Tuhanmu", maka kamipun beriman. Ya Tuhan kami, ampunilah bagi kami dosa-dosa kami dan hapuskanlah dari kami kesalahan-kesalahan kami, dan wafatkanlah kami beserta orang-orang yang banyak berbakti.”

 

(Q.S Ali Imran : 193)

 

 

3. Tawasul kepada Allah SWT dengan mentauhidkanNya, sebagaimana diperintahkan Allah SWT,

 

وَذَا ٱلنُّونِ إِذ ذَّهَبَ مُغَٰضِبًا فَظَنَّ أَن لَّن نَّقْدِرَ عَلَيْهِ فَنَادَىٰ فِى ٱلظُّلُمَٰتِ أَن لَّآ إِلَٰهَ إِلَّآ أَنتَ سُبْحَٰنَكَ إِنِّى كُنتُ مِنَ ٱلظَّٰلِمِينَ

 

 

“Dan (ingatlah kisah) Dzun Nun (Yunus), ketika ia pergi dalam keadaan marah, lalu ia menyangka bahwa Kami tidak akan mempersempitnya (menyulitkannya),

maka ia menyeru dalam keadaan yang sangat gelap: "Bahwa tidak ada Tuhan selain Engkau. Maha Suci Engkau, sesungguhnya aku adalah termasuk orang-orang yang zalim".

 

(Q. S Al-Anbiya : 87)

 

4. Tawasul kepada Allah SWT dengan menampakkan kelemahan kita sebagai makhlukNya sebagaimana diperintahkan Allah SWT,

 

وَأَيُّوبَ إِذْ نَادَىٰ رَبَّهُۥٓ أَنِّى مَسَّنِىَ ٱلضُّرُّ وَأَنتَ أَرْحَمُ ٱلرَّٰحِمِينَ

 

 

“Dan (ingatlah kisah) Ayub, ketika ia menyeru Tuhannya: "(Ya Tuhanku), sesungguhnya aku telah ditimpa penyakit dan Engkau adalah Tuhan Yang Maha Penyayang di antara semua penyayang"

 

(Q.S Al Anbiya :83)

 

 

5. Tawasul kepada Allah SWT dengan doa-doa orang shalih yang masih hidup. Hal itu sebagaimana ketika para sahabat mengalami kekeringan lalu mereka meminta kepada Nabi Muhammad SAW agar berdoa untuk mereka.

 

Lalu setelah Nabi Muhammad SAW meninggal mereka meminta kepada pamannya Al-Abbas.

 

 

6. Tawasul kepada Allah SWT dengan mengakui dosa-dosa yang telah kita lakukan kepada Allah SWT. Sebagaimana diperintahkan Allah SWT,

 

قَالَ رَبِّ إِنِّى ظَلَمْتُ نَفْسِى فَٱغْفِرْ لِى فَغَفَرَ لَهُۥٓ ۚ إِنَّهُۥ هُوَ ٱلْغَفُورُ ٱلرَّحِيمُ

 

 

Artinya: Musa mendoa: "Ya Tuhanku, sesungguhnya aku telah menganiaya diriku sendiri karena itu ampunilah aku". Maka Allah mengampuninya, sesungguhnya Allah Dialah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.

 

 

 

 

Baca juga :

Traveling ke Turki, Selain Kebab Jangan Lewatkan Cicipi 5 Kuliner Lezat Ini !

 

Mevlana Museum Konya Turki, Wisata Ziarah Sang Guru Sufi Jalaludin Rumi

 

 

 

Waallahu A'alam Bisshowab

 

Sekian pembahasan Batemuritour kali ini, bagi kalian yang ingin bertanya ataupun berkomentar terkait konten-konten Islami silahkan hubungi email kami di umrah.batemuri@gmail.com atau terus cek artikel kami di www.batemuritour.com

 









Whatsapp Logo
Start a Conversation Hi! Click one of our member below to chat on Whatsapp